31 Juli 2026 • Berita
Belajar Tanpa Lelah, Siswi SMA Semen Padang Lolos ke Kampus Top Indonesia hingga Australia
30 Kali dilihat
PADANG – Enam hari dalam sepekan, waktu Nayla Irza Ramadhani (18) nyaris tidak pernah lepas dari kegiatan belajar. Setelah menyelesaikan pelajaran di sekolah, ia kembali berpindah dari satu tempat bimbingan belajar ke tempat lainnya untuk memperdalam matematika, kimia, dan fisika. Bahkan, setiap mata pelajaran dipelajarinya di tempat yang berbeda.
Hari Minggu menjadi satu-satunya waktu bagi Nayla untuk beristirahat dari rutinitas belajarnya. Namun, bagi remaja kelahiran Padang, 22 September 2008, jadwal padat bukanlah beban. Belajar telah menjadi bagian dari kesehariannya sekaligus jalan yang dipilih untuk mendekatkan diri pada cita-citanya.
“Saya memang tidak bisa bermalas-malasan. Rasanya tidak nyaman kalau tidak ada kegiatan. Karena itu, saya selalu mencari aktivitas di luar rumah, salah satunya mengikuti les dari Senin sampai Sabtu,” kata Nayla saat ditemui di SMA Semen Padang, Jumat (24/7/2026).
Kebiasaan itulah yang perlahan membentuk kedisiplinan, ketekunan, dan daya juangnya. Karena di balik jadwal belajar yang padat, tersimpan sebuah cita-cita besar: menjadi ilmuwan dan menimba pengalaman akademik di lingkungan pendidikan terbaik.
Kini, kerja keras anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Irwan Kartadi Putra dan Roza Wilda itu mulai membuahkan hasil. Setelah menamatkan pendidikan di SMA Semen Padang Tahun Pelajaran 2025/2026, Nayla berhasil membuka jalan menuju sejumlah perguruan tinggi bergengsi di dalam maupun luar negeri.
Di Indonesia, ia diterima di Program Studi Farmasi Universitas Andalas (Unand) dan Program Studi Farmasi Universitas Padjadjaran (Unpad). Selain itu, Nayla juga memperoleh tawaran beasiswa dari President University untuk menempuh pendidikan pada Program Studi Kedokteran.
Kesempatan serupa juga datang dari luar negeri. Nayla telah mengikuti rangkaian seleksi untuk program studi bidang penelitian sains di Monash University, Australia. Ia juga menerima pemberitahuan dari The University of Hong Kong untuk bidang biomedis, meskipun status penerimaannya masih berada dalam daftar tunggu.
Namun, bagi Nayla, setiap surat penerimaan dari dua perguruan tinggi luar negeri tersebut bukanlah akhir dari perjalanan. Di baliknya masih terdapat berbagai pertimbangan, mulai dari biaya pendidikan, peluang memperoleh beasiswa, kesiapan hidup jauh dari keluarga, hingga pilihan yang harus dibicarakan secara matang bersama orang tua.
“Untuk melanjutkan pendidikan di Monash University, saya masih menantikan hasil seleksi Program Beasiswa Garuda yang dijadwalkan diumumkan pada Agustus 2026. Beasiswa penuh tersebut menjadi faktor penentu apakah saya dapat mewujudkan keinginan menempuh pendidikan di Australia,” ujarnya.
Sementara itu, kepastian dari The University of Hong Kong juga bergantung pada dukungan pembiayaan pendidikan yang diperolehnya.
“Di The University of Hong Kong, saya juga mengupayakan Beasiswa Garuda. Apabila saya mendapatkan beasiswa dan pihak pemberi beasiswa telah melaporkannya kepada The University of Hong Kong, maka pihak universitas akan memberikan keputusan akhir mengenai penerimaan saya,” sambung Nayla.
Memilih Jalan yang Tidak Membebani Keluarga
Di tengah banyaknya kesempatan yang terbuka, Nayla tidak tergesa-gesa mengambil keputusan. Setiap pilihan dibicarakannya secara matang bersama kedua orang tuanya. Nayla memahami bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan cita-cita, tetapi juga kesiapan ekonomi keluarga. Karena itu, sembari menunggu pengumuman Beasiswa Garuda untuk Monash University, ia memilih melakukan pendaftaran ulang di Program Studi Farmasi Unand.
Keputusan tersebut menjadi pilihan paling realistis agar Nayla tetap dapat melanjutkan pendidikan tinggi tanpa memberikan beban berlebihan kepada orang tuanya.
“Saya bersyukur atas semua kesempatan yang diperoleh. Saya memilih Unand karena ingin tetap melanjutkan pendidikan tanpa membebani orang tua. Namun, saya tetap berharap memperoleh beasiswa penuh untuk melanjutkan studi di luar negeri, terutama di Monash University,” katanya.
Bagi Nayla, Unand merupakan pilihan yang aman sekaligus berkualitas. Kendati demikian, keinginannya untuk memperoleh pengalaman akademik internasional masih tersimpan kuat. Apabila belum berhasil mendapatkan beasiswa pada tahun ini, Nayla tidak menutup kemungkinan untuk kembali mencoba pada tahun berikutnya. Namun, ia juga telah mempersiapkan diri untuk menerima apa pun hasilnya.
“Kalau belum diterima, saya akan mencoba lagi tahun depan. Kalau ternyata belum juga, berarti rezeki saya memang berada pada pilihan yang sekarang,” tuturnya.
Sikap tersebut memperlihatkan kematangan Nayla dalam menghadapi berbagai kemungkinan. Ia menyimpan ambisi besar untuk menatap dunia, tetapi tetap berpijak pada kondisi keluarga. Di balik keberaniannya bermimpi, terdapat pertimbangan rasional dan kesadaran untuk selalu menyiapkan pilihan lain.
Australia dan Mimpi Menjadi Ilmuwan
Di antara berbagai perguruan tinggi yang menerima dirinya, Monash University menjadi kampus yang paling menarik perhatian Nayla. Selain dikenal sebagai perguruan tinggi bereputasi internasional, letak Australia yang relatif dekat dengan Indonesia menjadi pertimbangan tersendiri. Kedekatan geografis serta lingkungan Australia membuat Nayla merasa lebih percaya diri untuk menjalani pendidikan jauh dari keluarga.
“Saya memilih Monash University karena merupakan universitas yang bagus di Australia. Australia juga dekat dengan Indonesia. Jadi, saya tidak terlalu takut untuk pergi sendiri dibandingkan harus kuliah ke kawasan yang lebih jauh seperti Eropa atau Amerika. Begitu juga dengan The University of Hong Kong yang masih berada di kawasan Asia. Di samping itu, saya juga sudah menguasai bahasa Mandarin,” katanya.
Nayla menyampaikan bahwa keinginan melanjutkan pendidikan di luar negeri tidak muncul secara tiba-tiba. Sejak awal, kedua orang tuanya telah mendorongnya untuk berani mencari pengalaman akademik internasional, terutama di kawasan Asia atau Australia.
“Orang tua menyarankan saya kuliah di luar negeri. Kalau bisa sejauh mungkin untuk menambah pengalaman, tetapi masih di kawasan Asia atau Australia,” ujarnya.
Dukungan tersebut tidak berhenti pada nasihat. Kedua orang tua Nayla turut mencari informasi mengenai perguruan tinggi, program pendidikan, agen pendidikan, prosedur pendaftaran, hingga peluang beasiswa. Bahkan, mereka juga mendampinginya menyiapkan berbagai persyaratan, mulai dari nilai rapor, sertifikat akademik, akun pendaftaran, hingga sertifikat kemampuan berbahasa Inggris (IELTS).
Bagi Nayla, keterlibatan orang tua menjadi sumber kekuatan terbesar dalam mengejar cita-citanya sebagai ilmuwan. Ia menyadari bahwa setiap peluang yang datang tidak hanya lahir dari kemampuan pribadi, tetapi juga dari doa, pengorbanan, dan kepercayaan keluarga.
“Orang tua menaruh harapan besar agar saya dapat kuliah di luar negeri. Selama ini, mereka ikut sibuk mencari informasi dan membantu menyiapkan akun pendaftaran serta berbagai dokumen yang diperlukan,” katanya.
