10 Juni 2026 • Berita
Kian Agresif Kembangkan Bisnis Nonsemen, PT Semen Padang Garap Industri Pulp dan Kertas hingga Peningkatan Kapasitas Sepablock
30 Kali dilihat
PADANG – PT Semen Padang terus memperkuat strategi diversifikasi usaha melalui pengembangan bisnis nonsemen dan produk turunan sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru perusahaan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan bisnis sekaligus menciptakan sumber pendapatan alternatif di tengah persaingan industri semen nasional yang semakin ketat dan kondisi pasar yang penuh tantangan.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, di Padang, Rabu (10/6/2026), mengatakan bahwa pengembangan bisnis nonsemen merupakan bagian dari transformasi perusahaan dalam mengoptimalkan seluruh potensi aset, kompetensi, dan sumber daya yang dimiliki agar dapat memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perusahaan.
"Di tengah kompetisi industri semen yang semakin kompetitif, perusahaan tidak bisa hanya bergantung pada bisnis inti semata. Karena itu, PT Semen Padang terus mendorong pengembangan berbagai lini bisnis nonsemen yang memiliki prospek menjanjikan, sehingga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan sekaligus memperkuat daya tahan perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar," kata Win.
Secara terpisah, Kepala Departemen Bisnis Non Semen & Produk Turunan (BNSPT) PT Semen Padang, Ridwan Muchtar, menambahkan bahwa pengembangan bisnis nonsemen merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas sumber pendapatan sekaligus mengoptimalkan berbagai potensi yang dimiliki perusahaan.
Menurutnya, salah satu sektor yang saat ini berkembang cukup pesat adalah jasa fabrikasi industri. Jika sebelumnya layanan fabrikasi lebih banyak difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pabrik semen di lingkungan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. atau SIG, kini pasar BNSPT telah meluas ke berbagai sektor industri lainnya, termasuk industri pulp dan kertas.
"Fabrikasi yang kami lakukan saat ini tidak hanya untuk kebutuhan pabrik semen di lingkungan SIG, tetapi juga melayani kebutuhan sejumlah industri besar lainnya. Tahun ini kami mendukung kebutuhan beberapa pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia," kata Ridwan.
Pada tahun ini, BNSPT terlibat dalam berbagai pekerjaan fabrikasi dan pemeliharaan mekanikal di sejumlah perusahaan pulp dan kertas nasional, yaitu PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dan PT Indah Kiat Pulp & Paper, serta sedang mengembangkan potensi pekerjaan di PT Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry dan PT Tanjung Enim Lestari Pulp and Paper.
Untuk mendukung operasional perusahaan-perusahaan tersebut, BNSPT mengerjakan berbagai komponen dan peralatan industri, seperti debarking drum, screw reclaimer, kiln, serta berbagai pekerjaan pemeliharaan mekanikal lainnya. Kerja sama dengan sejumlah perusahaan tersebut bukanlah hal baru bagi BNSPT.
"Untuk RAPP, misalnya, pekerjaan fabrikasi telah berjalan sejak 2023 dan masih terus berlanjut hingga saat ini," bebernya.
Menurut Ridwan, meningkatnya kepercayaan dari berbagai sektor industri menjadi bukti bahwa kualitas pekerjaan fabrikasi yang dihasilkan BNSPT mampu bersaing dan memenuhi standar industri nasional.
"Ini menunjukkan bahwa kemampuan fabrikasi yang dimiliki BNSPT semakin dipercaya oleh industri di luar sektor semen," tutur Ridwan.
**Pasok Batu Split untuk Flyover Sitinjau Lauik**
Selain jasa fabrikasi, BNSPT juga terus memperluas pemasaran produk material nonsemen. Salah satu produk yang dipasarkan adalah batu split yang digunakan untuk berbagai proyek konstruksi dan infrastruktur.
Ridwan menyebutkan bahwa batu split produksi BNSPT saat ini telah digunakan untuk mendukung pembangunan proyek strategis, termasuk proyek Flyover Sitinjau Lauik yang menjadi salah satu proyek infrastruktur penting di Sumatera Barat.
Tidak hanya itu, batu split juga dipasok untuk memenuhi kebutuhan sejumlah batching plant untuk produksi beton.
"Batu split yang kami produksi terus mendapatkan pasar. Saat ini digunakan untuk kebutuhan proyek Flyover Sitinjau Lauik dan juga beberapa batching plant," katanya.
**Binder Clay Dipasok ke PT Pusri**
Produk nonsemen lainnya yang turut memberikan kontribusi positif terhadap kinerja BNSPT adalah binder clay. Material ini digunakan sebagai salah satu bahan baku dalam proses produksi pupuk NPK. BNSPT kembali memperoleh kepercayaan dari PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) untuk memasok binder clay pada tahun 2026 ini.
Dalam kontrak yang berjalan saat ini, BNSPT memasok sebanyak 7.500 ton binder clay hingga akhir Juli 2026. Kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kontrak sebelumnya yang terlaksana pada tahun 2025 dengan total pasokan mencapai 8.400 ton.
"Keberlanjutan kerja sama ini menjadi indikasi bahwa kualitas produk binder clay kami mampu memenuhi kebutuhan industri pupuk nasional," katanya.
**Produk Kalsium Karbonat dan Biji Kalsium**
Tidak hanya fokus pada bisnis yang sudah berjalan, BNSPT juga terus melakukan inovasi untuk membuka peluang pasar baru. Salah satu produk yang tengah dikembangkan adalah kalsium karbonat yang direncanakan untuk digunakan sebagai bahan penetral tingkat keasaman (pH) tanah pada lahan perkebunan kelapa sawit dan tambak udang.
Menurut Ridwan, pengembangan produk-produk baru tersebut merupakan langkah strategis perusahaan dalam memperluas portofolio bisnis nonsemen yang memiliki nilai tambah dan prospek pasar jangka panjang.
"Selain kalsium karbonat, BNSPT juga mengembangkan produk biji kalsium yang ditujukan sebagai bahan pembuatan pakan ternak. Untuk mendukung pengembangan pasar produk tersebut, BNSPT telah melakukan komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan sejumlah perusahaan besar di industri pakan ternak nasional, di antaranya PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia," kata Ridwan.
**Permintaan Sepablock Meningkat**
Di sisi lain, produk Semen Padang Bata Interlock atau Sepablock juga menunjukkan perkembangan yang signifikan. Produk bata interlock inovatif ini semakin dikenal masyarakat karena menawarkan proses pembangunan yang lebih cepat, efisien, dan ramah lingkungan.
Ridwan menjelaskan bahwa permintaan Sepablock mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2024, produk tersebut digunakan untuk pembangunan sekitar 83 unit rumah tipe 36. Angka tersebut kemudian meningkat pada 2025 menjadi 103 unit rumah tipe 36. Sementara itu, dari Januari hingga Mei 2026, jumlah pesanan yang masuk telah mencapai kebutuhan untuk pembangunan sekitar 120 unit rumah tipe 36.
"Peningkatan permintaan Sepablock untuk tahun ini sebagian besar berasal dari proyek pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat yang terdampak bencana di berbagai wilayah di Sumatera Barat. Karena memang fokus pemasaran kami saat ini diarahkan untuk mendukung kebutuhan pembangunan huntap. Saat ini sedang berlangsung pembangunan Huntap Yayasan Buddha Tzu Chi, Huntap Danantara, Huntap BNPB, dan dalam persiapan Huntap Swadaya APBD kabupaten/kota serta Huntap Terpadu Kementerian PKP," katanya.
**Kapasitas Produksi Dioptimalkan**
Meningkatnya permintaan pasar mendorong BNSPT untuk melakukan optimalisasi fasilitas produksi Sepablock. Saat ini, kapasitas produksi Sepablock dioptimalkan menjadi 120 unit rumah tipe 36 per bulan.
Ridwan mengungkapkan bahwa proses optimalisasi kapasitas pabrik Sepablock menjadi setara kebutuhan 120 unit rumah tipe 36 per bulan sudah dimulai sejak Februari 2026.
"Mulai Februari 2026, kami mengoptimalkan kapasitas produksi Sepablock hingga setara kebutuhan 120 unit rumah tipe 36 per bulan sebagai langkah nyata perusahaan untuk memastikan kebutuhan pasar dapat terpenuhi sekaligus mendukung program pembangunan hunian tetap yang tengah berjalan di Sumatera Barat," ujarnya.
